Remaja sampai dewasa, dari nol
Les Aksara Pegon Semarang Guru ke Rumah & Online
Les aksara Pegon Edusora Semarang mengajarkan tulisan Arab yang dipakai menuliskan bahasa Jawa, dari mengenali huruf tambahannya sampai membaca makna gandul di kitab pesantren.
Mengenal Les Aksara Pegon di Semarang
Les aksara Pegon Edusora Semarang mengajarkan tulisan Arab yang dipakai menuliskan bahasa Jawa, dari mengenali huruf tambahannya sampai membaca makna gandul di kitab pesantren. Terbuka untuk pemula yang belum mengenal huruf Arab sekalipun. Gurunya menghampiri rumah di Semarang, atau mengajar dari layar. Tiap sesi Rp76.875.
Konsultasi & DaftarFakta Program
Peta materi
Tahap yang dilewati, beserta kesulitan khas di masing-masing
Urutan ini tetap, dan kecepatannya berbeda antar peserta terutama pada tahap awal. Peserta yang sudah lancar membaca huruf Arab melewati dua tahap pertama jauh lebih cepat.
Aksara Pegon jadi lebih dekat, di tempat pilihan keluarga
Belajar aksara Pegon fokus satu tutor satu siswa, di rumah atau online, jadwal fleksibel.
Urutan belajar
Dari belum mengenal huruf sampai membaca kitab sendiri
Panjang tiap tahap berbeda, dan yang paling berbeda tahap pertama. Peserta yang sudah lancar mengaji bisa melewatinya dalam satu atau dua sesi.
- 01
Mengukur titik awal
Sesi 1Sesi pembuka memeriksa sejauh mana huruf Arab sudah dikenali, dan menanyakan naskah atau kitab apa yang ingin dibaca peserta.
- 02
Memantapkan huruf dasar
Bila diperlukanBagi yang belum mengenal huruf Arab, tahap ini dikerjakan lebih dahulu sampai huruf bersambung bisa dibaca tanpa ragu.
- 03
Menguasai tujuh huruf tambahan
Tahap kunciHuruf khas Pegon dikenalkan berdampingan dengan huruf Arab asalnya, lalu dilatih lewat menulis tangan setiap sesi.
- 04
Membaca dan menulis kalimat Jawa
BerjalanPeserta menuliskan kalimat yang ia kenal bunyinya, lalu membaca nyaring tulisan orang lain. Dua arah ini saling memeriksa.
- 05
Masuk ke naskah sungguhan
LanjutanBahan berpindah ke kitab, catatan, atau naskah yang memang ingin dibaca peserta, termasuk belajar mengenali kebiasaan ejaan penulisnya.
- 06
Membaca makna gandul
Bila ditujukanBagi peserta yang menujunya, penanda kedudukan kata dikenalkan bertahap sampai satu halaman kitab bisa dibaca utuh.
Kelebihan kami
Nilai lebih program Aksara Pegon ini
Huruf Arab yang menuliskan bahasa Jawa
Hurufnya memang huruf Arab, tetapi yang dituliskan bahasa Jawa. Perbedaan itu disebut sejak menit pertama, sebab peserta yang mengira sedang belajar bahasa Arab akan kehilangan arah di pelajaran ketiga.
Huruf tambahan dikenalkan sebagai satu keluarga
Bunyi ca, pa, nga, nya, ga, dha, dan tha tidak ada dalam abjad Arab. Ketujuhnya dibentuk dengan menambah titik pada huruf Arab yang bunyinya terdekat, dan polanya jauh lebih mudah diingat ketika dilihat bersama.
Ketiadaan standar diajarkan, tidak disembunyikan
Pegon tidak punya ejaan baku tunggal. Satu kata bisa ditulis berbeda antar daerah dan antar masa. Peserta dibekali cara mengenali kebiasaan sebuah naskah, sehingga perbedaan berhenti terasa seperti kesalahan.
Sasarannya membaca naskah sungguhan
Latihan tidak berhenti pada lembar kerja. Begitu huruf dikuasai, bahan pindah ke kitab atau catatan Pegon yang betul-betul ada, sebab di situlah keterampilan ini dipakai.
Pilihan belajar
Kenapa les privat aksara Pegon lebih efektif di Semarang?
Les Aksara Pegon Privat Edusora
Ke rumah di Semarang
- Perhatian tutor saat belajar aksara Pegon — Penuh, satu untuk satu
- Materi aksara Pegon disesuaikan level siswa
- Tutor aksara Pegon bisa diganti tanpa ribet
- Jadwal menyesuaikan keluarga di Semarang
- Selaras kurikulum sekolah di Semarang
- Belajar aksara Pegon di rumah Anda, Semarang
Bimbel Aksara Pegon Grup
- Perhatian tutor saat belajar aksara Pegon — Terbagi ke banyak siswa
- Materi aksara Pegon disesuaikan level siswa
- Tutor aksara Pegon bisa diganti tanpa ribet
- Jadwal menyesuaikan keluarga di Semarang — Kelas terjadwal
- Selaras kurikulum sekolah di Semarang — Umum
- Belajar aksara Pegon di rumah Anda, Semarang
Belajar Aksara Pegon Sendiri
- Perhatian tutor saat belajar aksara Pegon — Tanpa pendamping
- Materi aksara Pegon disesuaikan level siswa
- Tutor aksara Pegon bisa diganti tanpa ribet
- Jadwal menyesuaikan keluarga di Semarang
- Selaras kurikulum sekolah di Semarang
- Belajar aksara Pegon di rumah Anda, Semarang
Yang terbawa
Kemampuan yang tertinggal setelah program berjalan
- Membaca tulisan Pegon berbahasa JawaKalimat dan paragraf berbahasa Jawa dalam huruf Pegon bisa dibaca nyaring tanpa menebak bentuk kata.
- Menulis Pegon dengan satu kebiasaan yang taatPeserta memilih satu cara ejaan lalu memakainya konsisten, sehingga tulisannya terbaca oleh orang lain.
- Mengenali tujuh huruf tambahan beserta asalnyaHuruf khas Pegon dikenali seketika, dan hubungannya dengan huruf Arab asalnya dipahami sebagai pola.
- Menyimpulkan kebiasaan ejaan sebuah naskahPeserta bisa memeriksa halaman awal sebuah naskah, menyimpulkan pilihan penulisnya, lalu membaca sisanya dengan simpulan itu.
- Membaca makna gandul di kitabBagi peserta yang menujunya, terjemahan menggantung beserta penanda kedudukan kata bisa dibaca dan dipahami perannya.
- Jalan masuk ke naskah keluargaCatatan tulisan tangan milik orang tua atau kakek yang semula tertutup menjadi bisa dibaca sendiri.
- Kesiapan belajar mandiriSetelah huruf dan kebiasaan membaca naskah dikuasai, peserta bisa melanjutkan sendiri dengan bahan apa pun yang ia temukan.
Apa yang sebenarnya dipelajari di Pegon
Pegon adalah cara menuliskan bahasa daerah memakai huruf Arab. Yang paling banyak ditulis dengannya bahasa Jawa, dan di samping itu ada Sunda serta Madura. Jadi hurufnya Arab, sementara bahasanya tetap bahasa yang sehari-hari dipakai di rumah.
Pembedaan itu kami sebut di menit pertama, sebab salah paham di titik ini melahirkan kekecewaan yang tidak perlu. Peserta yang mendaftar dengan harapan menguasai bahasa Arab akan merasa pelajarannya berbelok. Sebaliknya, peserta yang sudah terbiasa membaca Al-Qur'an sering terkejut menemukan huruf yang tidak ia kenal, dan terkejut lagi menemukan bahwa yang terbaca justru kalimat Jawa.
Kegunaannya nyata dan cukup luas. Di lingkungan pesantren, Pegon dipakai menuliskan terjemahan di bawah baris kitab berbahasa Arab. Di luar itu, banyak catatan keluarga, naskah pengajian, dan buku lama di Jawa ditulis dengan huruf ini. Orang yang bisa membacanya memperoleh akses ke bahan yang jumlahnya besar dan sebagian belum pernah dialihkan ke huruf Latin.
Program ini berangkat dari nol. Peserta yang belum mengenal huruf Arab sama sekali tetap bisa mulai, hanya urutan tahap awalnya lebih panjang karena pengenalan huruf dasarnya ikut dikerjakan.
Tujuh bunyi yang tidak ada dalam abjad Arab
Bahasa Jawa memiliki bunyi yang tidak dimiliki bahasa Arab, dan di situlah Pegon menunjukkan kecerdasannya. Alih-alih menyerah, para penulis dahulu menambahkan titik pada huruf Arab yang bunyinya paling berdekatan, sehingga lahir huruf baru yang tetap terasa satu keluarga dengan aslinya.
Tujuh bunyi itu ca, pa, nga, nya, ga, dha, dan tha. Mengenalkannya satu per satu secara terpisah membuat peserta menghafal tujuh bentuk yang terasa acak. Karena itu kami menaruhnya berdampingan dengan huruf Arab asalnya, sehingga yang dihafal cukup satu pola: titik tambahan menandai bunyi yang bertetangga.
Perbedaan kedua menyangkut vokal. Dalam tulisan Arab, vokal pendek sering tidak dituliskan dan pembaca menyimpulkannya dari pengetahuan bahasanya. Pegon Jawa umumnya menuliskan vokal lebih lengkap, sebab bahasa Jawa tidak menyediakan petunjuk yang sama. Akibatnya, pembaca yang terbiasa dengan teks Arab perlu menyesuaikan kebiasaan matanya, dan penyesuaian itu memakan beberapa sesi.
Tahap ini kami tidak percepat. Peserta yang hurufnya belum mantap lalu dipaksa membaca naskah akan menebak kata dari bentuk keseluruhannya, dan tebakan semacam itu membentuk kebiasaan yang sulit diperbaiki.
Pegon tidak punya ejaan baku, dan itu bukan kekurangan
Satu hal yang kerap membuat pemula ragu pada kemampuannya sendiri: satu kata yang sama ditemukan tertulis dengan dua cara berbeda, dan keduanya benar. Pegon memang tidak memiliki ejaan baku tunggal yang berlaku di seluruh wilayah dan seluruh masa.
Perbedaannya muncul di beberapa tempat. Pemilihan huruf untuk bunyi tertentu bisa berbeda antar daerah. Kelengkapan penulisan vokal berbeda antar penulis. Cara menuliskan kata serapan dari bahasa Arab juga tidak seragam, sebagian mengikuti ejaan aslinya dan sebagian mengikuti bunyinya dalam lidah Jawa.
Menghadapi kenyataan ini, yang kami ajarkan bukan satu ejaan yang harus dianggap paling benar. Peserta dibekali cara membaca kebiasaan sebuah naskah: memeriksa beberapa kata yang sudah dikenal di halaman awal, menyimpulkan pilihan penulisnya, lalu memakai simpulan itu untuk membaca halaman berikutnya. Keterampilan membaca kebiasaan inilah yang membedakan orang yang bisa membaca satu buku dari orang yang bisa membaca naskah apa pun.
Untuk menulis, peserta memilih satu kebiasaan lalu memakainya secara taat. Taat pada satu pilihan lebih berguna daripada berpindah-pindah, dan pilihan itu biasanya mengikuti kebiasaan lingkungan tempat tulisan itu akan dibaca.
Makna gandul: membaca terjemahan yang menggantung di bawah baris
Bagi banyak peserta, inilah tujuan sebenarnya belajar Pegon. Di pesantren, kitab berbahasa Arab dibaca bersama terjemahan Jawa yang ditulis kecil-kecil di bawah tiap kata, miring dan menggantung. Cara ini dikenal sebagai makna gandul.
Yang mengangkatnya di atas terjemahan biasa adalah penanda kedudukan kata. Sebelum terjemahan sebuah kata, penulis menyisipkan kata penanda yang memberi tahu peran kata itu dalam kalimat Arabnya. Yang paling dikenal pasangan utawi dan iku, yang menandai pokok kalimat dan keterangannya. Dengan penanda semacam itu, satu halaman kitab sekaligus mengajarkan tata bahasa Arabnya, di samping artinya.
Membaca makna gandul karena itu menuntut dua hal sekaligus: mengenali huruf Pegon, dan mengenali arti penandanya. Keduanya diajarkan berurutan, dan penanda baru masuk setelah huruf sudah mantap. Peserta yang memaksakan keduanya sekaligus biasanya tersendat di keduanya.
Bagi peserta yang tidak berangkat dari lingkungan pesantren, bagian ini tetap berguna dan bisa diambil sebagian saja. Sebagian peserta hanya ingin membaca catatan tulisan tangan milik kakek atau orang tuanya, dan untuk kebutuhan itu penanda kedudukan kata tidak diperlukan.
Ringkasnya
Empat kebiasaan yang mempercepat penguasaan
Menulis dengan tangan sejak hari pertama
Membaca saja membuat huruf terasa dikenali padahal belum. Menuliskannya memaksa setiap titik diperhatikan, dan di situlah perbedaan antar huruf benar-benar masuk.
Menyalin kalimat yang sudah dipahami artinya
Menyalin teks yang maknanya sudah dikenal membebaskan perhatian untuk mengurus bentuk hurufnya. Teks yang asing menuntut dua pekerjaan sekaligus.
Membaca nyaring, meski sendiri
Bunyi yang keluar dari mulut memeriksa bacaan jauh lebih jujur daripada membaca dalam hati, sebab kata yang salah terbaca langsung terdengar aneh di telinga sendiri.
Membawa naskah yang memang ingin dibaca
Peserta yang punya sasaran nyata, berupa kitab tertentu atau catatan keluarga, bertahan jauh lebih lama daripada peserta yang berlatih di lembar kerja umum.
Belajar di Semarang, di tengah lingkungan yang masih memakainya
Jawa Tengah termasuk wilayah tempat Pegon masih hidup pemakaiannya, terutama di lingkungan pesantren dan pengajian. Bagi peserta di Semarang, hal ini memberi keuntungan yang tidak dimiliki pembelajar di tempat lain: bahan latihan yang sungguhan tidak sulit ditemukan, dan orang yang bisa diajak bertanya juga ada.
Sesi berlangsung di rumah peserta. Alasannya sederhana dan sering disebut sendiri oleh peserta: belajar menulis huruf baru pada usia dewasa terasa canggung, dan rasa canggung itu jauh lebih ringan di tempat yang sudah dikenal. Guru juga bisa langsung melihat naskah atau kitab yang memang ada di rumah, lalu menjadikannya bahan latihan.
Sesi lewat layar tersedia dan dipakai sebagian peserta, terutama yang jadwalnya berpindah. Untuk pelajaran ini, kamera yang diarahkan ke meja bekerja cukup baik: tulisan peserta terlihat sewaktu ditulis, sehingga arah gerakan tangan dan letak titik bisa diperbaiki saat itu juga. Yang dikerjakan di layar hanya penjelasan dan pemeriksaan, sedangkan menulisnya tetap di buku tulis sungguhan.
Tanya jawab
Yang sering ditanyakan soal les aksara Pegon
Aksara Pegon itu bahasa Arab?
Hurufnya huruf Arab, bahasanya bukan. Pegon dipakai menuliskan bahasa daerah, terutama Jawa, dan di samping itu Sunda serta Madura. Jadi yang terbaca kalimat Jawa, hanya hurufnya Arab. Pembedaan ini kami sampaikan di menit pertama, sebab peserta yang mendaftar berharap menguasai bahasa Arab akan merasa pelajarannya berbelok arah di sesi ketiga.
Saya belum bisa membaca huruf Arab sama sekali. Masih bisa ikut?
Masih, dan ini keadaan yang sering kami terima. Hanya tahap awalnya lebih panjang, sebab pengenalan huruf Arab dasar dikerjakan lebih dahulu sampai huruf bersambung bisa dibaca tanpa ragu. Sesudah itu jalurnya sama dengan peserta lain. Tidak ada prasyarat yang harus dipenuhi sebelum mendaftar.
Berapa biaya les aksara Pegon di Semarang?
Rp76.875 untuk satu sesi. Satu jam cukup untuk tahap mengenal huruf, dan satu setengah jam lebih pas begitu masuk membaca naskah. Biaya perjalanan guru dihitung sendiri mengikuti jauh dekatnya rumah. Perlu dinyatakan terbuka: angka ini masih bersifat sementara karena program ini belum punya entri di katalog resmi, dan akan dibetulkan begitu tingkatnya ditetapkan pemilik.
Saya sudah lancar mengaji. Apakah belajarnya lebih cepat?
Jauh lebih cepat pada tahap awal, sebab huruf dasarnya sudah dikuasai. Dua hal tetap perlu waktu. Pertama, tujuh huruf tambahan yang tidak ada dalam abjad Arab. Kedua, kebiasaan mata: dalam teks Arab vokal pendek sering tidak dituliskan, sedangkan Pegon Jawa umumnya menuliskannya lebih lengkap. Penyesuaian kebiasaan membaca ini biasanya memakan beberapa sesi.
Huruf tambahan Pegon itu apa saja?
Tujuh bunyi yang tidak dimiliki abjad Arab: ca, pa, nga, nya, ga, dha, dan tha. Ketujuhnya dibentuk dengan menambahkan titik pada huruf Arab yang bunyinya paling berdekatan. Kami mengenalkannya berdampingan dengan huruf asalnya, sehingga yang diingat satu pola dan bukan tujuh bentuk yang terasa acak. Cara ini memperpendek tahap hafalan secara nyata.
Kenapa satu kata bisa ditulis berbeda di naskah yang berbeda?
Karena Pegon tidak memiliki ejaan baku tunggal yang berlaku di semua wilayah dan semua masa. Perbedaan muncul pada pemilihan huruf untuk bunyi tertentu, pada kelengkapan penulisan vokal, dan pada cara menuliskan kata serapan dari bahasa Arab. Keduanya bisa benar. Yang kami ajarkan adalah cara mengenali kebiasaan sebuah naskah, sehingga ragam berhenti terasa seperti kesalahan.
Apa itu makna gandul, dan apakah diajarkan di sini?
Makna gandul adalah terjemahan Jawa yang ditulis kecil dan miring di bawah tiap kata pada kitab berbahasa Arab, sehingga tampak menggantung. Keistimewaannya ada pada kata penanda kedudukan, yang paling dikenal pasangan utawi dan iku, yang memberi tahu peran kata itu di dalam kalimat Arabnya. Bagian ini diajarkan, dan dimulai setelah huruf sudah mantap.
Saya hanya ingin membaca catatan tulisan tangan kakek saya. Bisa?
Bisa, dan untuk sasaran itu programnya bisa dipendekkan. Penanda kedudukan kata yang dipakai di kitab pesantren tidak Anda perlukan. Yang dikerjakan huruf dasar, tujuh huruf tambahan, cara menuliskan vokal, lalu langsung masuk ke naskah Anda sendiri. Bawa catatannya ke sesi pertama, sebab tulisan tangan punya kesulitan tersendiri yang lebih baik dihadapi lebih awal.
Berapa lama sampai bisa membaca?
Kami memilih tidak menyebut jumlah bulan, sebab titik awal peserta berbeda jauh dan janji semacam itu menekan peserta yang jalannya lebih lambat. Yang bisa kami sebut penandanya: membaca berhenti terasa menebak ketika peserta sanggup menyebutkan huruf penyusun kata yang baru saja ia baca. Tanda itu yang kami tunggu sebelum naik ke naskah sungguhan.
Apakah perlu bisa bahasa Jawa?
Sangat menolong, dan kalau belum bisa, kesulitannya naik. Pegon menuliskan bunyi bahasa Jawa, sehingga pembaca yang mengenal bahasanya bisa memeriksa bacaannya sendiri dari kewajaran bunyi. Peserta yang tidak berbahasa Jawa tetap bisa belajar membaca hurufnya, hanya saja ia perlu lebih sering memeriksa arti, dan kecepatannya biasanya lebih lambat pada tahap awal.
Wilayah mana saja yang dijangkau guru?
Seluruh wilayah Kota Semarang. Penempatan guru memperhatikan jarak, dan untuk pelajaran ini belajar di rumah punya nilai tambah: naskah atau kitab yang memang tersimpan di rumah bisa langsung dijadikan bahan latihan. Untuk alamat di luar kota, ketersediaan gurunya berbeda-beda dan perlu ditanyakan dahulu.
Bisa lewat sesi daring?
Bisa, dan untuk pelajaran menulis huruf hal ini bekerja cukup baik asalkan kameranya bisa diarahkan ke meja. Tulisan peserta terlihat sewaktu ditulis, sehingga arah gerakan tangan dan letak titik bisa dibetulkan saat itu juga. Yang berjalan di layar hanya penjelasan dan pemeriksaan; menulisnya tetap di buku tulis sungguhan, sebab huruf menempel lewat tangan.
Bisa belajar bersama teman atau saudara dalam satu sesi?
Format program ini satu guru untuk satu peserta, dan untuk pelajaran menulis huruf ada alasan yang perlu diketahui. Dua orang di satu sesi berarti satu menulis sementara yang lain menunggu, dan yang menunggu tidak memperoleh latihan tangan yang sama. Bila dua orang ingin sama-sama menguasainya, dua sesi terpisah lebih berguna meski terlihat lebih mahal.
Apa yang perlu saya siapkan?
Buku tulis bergaris, pensil, dan penghapus. Pensil kami sarankan lebih dahulu daripada pena, sebab menulis huruf baru menuntut banyak perbaikan dan menghapus lebih baik daripada mencoret. Bila Anda punya kitab, naskah, atau catatan yang ingin dibaca, bawa ke sesi pertama. Bahan milik sendiri hampir selalu membuat peserta bertahan lebih lama.
Apakah ada pekerjaan rumah?
Ada, dan sengaja pendek. Menulis beberapa baris tiap hari membawa hasil jauh melampaui satu jam yang ditumpuk sekali sepekan, sebab keterampilan tangan tumbuh lewat pengulangan yang rapat. Biasanya berupa menyalin kalimat yang artinya sudah Anda pahami, sehingga perhatian bisa sepenuhnya ke bentuk hurufnya.
Anak saya santri. Apakah program ini cocok untuknya?
Cocok, dan cukup banyak peserta datang dengan keperluan itu. Sampaikan kitab apa yang sedang ia hadapi di pesantrennya supaya bahan latihan disesuaikan. Satu hal yang kami jaga: kami mengikuti kebiasaan ejaan yang dipakai di lingkungan belajarnya, dan tidak mengajarkan kebiasaan lain yang bisa membuatnya tampak keliru di hadapan pengajarnya.
Jadwalnya bisa malam atau akhir pekan?
Bisa, dan jamnya disepakati bersama guru. Untuk pelajaran menulis huruf, satu saran: pilih jam ketika mata masih segar. Membedakan letak titik pada huruf yang bentuknya berdekatan menuntut ketelitian, dan sesi yang diambil dalam keadaan lelah sering menanamkan kebiasaan keliru yang kemudian harus dibongkar.
Kalau peserta merasa tidak cocok dengan gurunya?
Sampaikan kepada tim; penggantiannya dijalankan tanpa biaya tambahan. Pada pelajaran ini kecocokan paling terasa di kesabaran: tahap awal berisi banyak pengulangan, dan peserta dewasa yang sedang belajar menulis huruf baru butuh ruang untuk salah tanpa merasa ditegur. Tidak ada gunanya menahan hal ini sampai beberapa sesi terpakai.
Apakah ada biaya perjalanan guru?
Ada. Ia terhitung di luar biaya sesi, dan angkanya mengikuti jarak tempuh guru menuju rumah Anda. Besarnya disampaikan sebelum tanggal pertama disepakati. Kalau belajarnya dari layar, biaya ini nol.
Bagaimana cara mendaftar?
Lewat formulir pendaftaran di situs ini, atau hubungi tim dahulu bila ada yang ingin dipastikan. Tiga keterangan yang menolong: sejauh mana Anda sudah mengenali huruf Arab, bahasa daerah yang ingin dituliskan, dan naskah atau kitab apa yang menjadi sasaran Anda. Keterangan ketiga yang paling berpengaruh, sebab seluruh bahan latihan disusun mengarah ke sana.
Layani sekarang
Siap mulai Les Aksara Pegon?
Keluarga di Semarang sudah lebih dulu memulai. Giliranmu menjajal sesi aksara Pegon pertama.
